Sampah Organik Rumah Tangga Metode Bata Terawang dan Biokonversi Maggot BSF di Masa Pandemi

Sampah Organik Rumah Tangga Metode Bata Terawang dan Biokonversi Maggot BSF di Masa Pandemi

Sampah Organik Rumah Tangga Metode Bata Terawang dan Biokonversi Maggot BSF di Masa Pandemi

Kejadian pandemi Covid-19 yang melanda seluruh masyarakat dunia sejak awal 2019 telah mengubah berbagai sendi kehidupan manusia. Jutaan manusia di seluruh dunia telah menjadi korban wabah Covid-19, baik yang meninggal maupun yang terkonfirmasi positif dan harus dirawat di rumah sakit. Meskipun berbagai negara termasuk Indonesia telah memulai melakukan vaksinasi, kasus positif hingga saat ini masih terus meningkat cukup signifikan dan kita tidak tahu kapan pandemi berakhir. Untuk mengendalikan kasus virus Covid-19 yang makin meluas dari waktu ke waktu, pemerintah membuat kebijakan, di antaranya mengurangi  pergerakan masyarakat serta menerapkan program 3M (memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan). Berbagai kegiatan, baik kegiatan sosial, ekonomi, pendidikan, maupun keagamaan dibatasi hingga dilakukan penutupan. Masyarakat untuk sementara melakukan segala aktivitasnya di rumah (work from home) termasuk belajar-mengajar yang dilakukan secara daring. Pembatasan kegiatan masyarakat pada masa pandemi ini kemudian juga berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian kehilangan pekerjaan karena usahanya ditutup ataupun karena adanya pemutusan hubungan kerja. Meskipun demikian, ada juga masyarakat yang berinovasi melakukan kegiatan yang bermanfaat dan bahkan menghasilkan pendapatan secara ekonomi. Dari sisi lingkungan hidup, kondisi pandemi juga telah berpengaruh pada jumlah dan karakteristik timbulan sampah rumah tangga. Berdasarkan data di Kota Bandung, misalnya, jumlah sampah komersial menurun, sedangkan jumlah sampah rumah tangga meningkat (PD Kebersihan, 2020), yaitu komposisi sampah organik pada sampah rumah tangga sekitar 50–70 persen. Namun, di sisi lain, jumlah sampah medis berupa masker bekas meningkat drastis dan sampah tersebut tergolong pada kategori sampah berbahaya sehingga harus dimusnahkan. Pada saat pandemi, masyarakat banyak yang berdiam dan melakukan aktivitas di rumah. Mengisi kegiatan di rumah dapat dilakukan dengan aktivitas yang bermanfaat dan bahkan mengatasi permasalahan yang timbul akibat pandemi, misalnya mengolah sampah organik rumah tangga skala komunal untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan mengolah sampah organik rumah tangga skala komunal, dua di antaranya adalah metode bata terawang dan  menerapkan biokonversi maggot BSF (Black Soldier Fly). Metode bata terawang atau  bata berongga dibuat dengan membuat bak terbuat dari bata merah berukuran 1 meter kubik yang dilengkapi dengan pintu kecil buat panen kompos pada bagian bawah dan diberi penutup agar tidak kena air hujan. Setiap hari, sampah organik yang dihasilkan dari beberapa rumah tangga dimasukkan ke bata terawang tersebut kemudian disiram dengan air yang telah dicampur bakteri yang berfungsi sebagai bioactivator. Setelah 5 minggu, kemudian kompos dapat dipanen dapat digunakan untuk media tanaman berbagai tanaman sayuran kebutuhan rumah tangga. Cara kedua adalah dengan proses biotransformasi sampah organik dengan menggunakan maggot menjadi bahan organik yang terdiri dari polipeptid yang mengandung protein, lipid, peptida, asam amino, kitin, dan vitamin (Liu, C.; Wang, C.; Yao, H, 2019). Lalat maggot BSF dianggap sebagai serangga nonhama dan menguntungkan. Serangga maggot juga merupakan sumber protein yang penting untuk abad ke-21 (Rui, M. et al, 2017). Biokonversi tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah organik di satu sisi dan ketahanan ekonomi di sisi lain dengan membentuk wirausaha baru dalam bidang pertanian, perikanan dan peternakan. Larva maggot BSF mengandung protein sebesar 40-50 persen, termasuk asam amino esensial yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti tepung ikan dan bungkil kedelai dalam campuran pakan ternak (Wardhana, 2016). Selain itu, keuntungan lain dari biokonversi Maggot BSF ini antara lain memiliki hasil sampingan berupa pupuk organik cair yang memiliki kandungan asam amino tinggi dan kompos. Hasil panen dari larva BSF ini dapat dimanfaatkan dalam bidang peternakan dan pertanian sehingga diharapkan dapat membantu kondisi perekonomian dan membuka peluang wirausaha baru masyarakat. Hasil ternak ikan lele dan kebun mini ini dapat dijual ke pasar atau hanya dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk menjaga ketahanan pangan dan gizi. (Dr Ir Mohamad Satori MT IPU, Dekan Fakultas Teknik dan Dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Islam Bandung) Mewujudkan sumber daya unggul yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Situs web: https://www.unisba.ac.id.
https://geoplanology.my.id/ Refrensi

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *