Adaptif terhadap Perubahan, Fisika Medis jadi Pilihan

[ad_1]

Teknologi kesehatan terus berkembang. Revolusi ini berlaku pula pada dunia medis yang mau tak mau memaksa setiap orang untuk beriringan ikut berkembang memenuhi kebutuhan zaman. Perubahan teknologi kesehatan itu tentunya membutuhkan tenaga ahli yang bisa menguasai teknologi dalam ilmu pengetahuan terapan.

Program peminatan Fisika Medis pada Program Studi Fisika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) siap menjawab peluang dan tantangan tersebut. Ketua Program Studi (Prodi) Fisika Reinard Primulando PhD bersama dosen Prodi Fisika program Fisika Medis Flaviana Catherine SSi MT mengungkapkan, meski Fisika Medis baru dibuka secara resmi pada 2020, sudah memiliki pengalaman yang cukup luas dan multidisiplin. Tak hanya berfokus pada Fisika Medis, mahasiswa kerap berkolaborasi dengan bidang keilmuan fisika lainnya.

Sementara itu, Reinard secara simpel memaparkan bahwa program Fisika Medis bukan jalur pendidikan seorang dokter. Diksi “medis” yang memang erat kaitannya dengan dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya perlu dipahami sebagai bagian baru dari fisika itu sendiri. Fisika Medis merupakan bidang ilmu yang mengaplikasikan ilmu fisika ke dalam dunia kedokteran, terutama dalam bidang radioterapi dan radiodiagnostik.

Jalur pendidikan

Jalur pendidikan untuk fisikawan medis dimulai dengan menempuh jalur pendidikan strata-1 (S-1) Program Studi Fisika yang memiliki konsentrasi atau program Fisika Medis. Setelah lulus S-1, persis seperti seorang dokter dan perawat, lulusan Fisika Medis harus menempuh clinical training dalam kurun waktu 1-2 semester.

Namun, jika ingin memperdalam secara keilmuan, usai menempuh S-1 Fisika, disarankan untuk mengambil S-2 Fisika Medis dan mengikuti clinical training 2 tahun. Jika semua tahapan tersebut telah selesai ditempuh, nantinya akan mendapat gelar Fisikawan Medik Spesialis (SpRT/SpRDI/SpIKN).

Di Unpar sendiri, tepatnya di Program Studi Fisika Unpar, secara umumnya, S-1 Fisika harus lulus minimal 144 satuan kredit semester (SKS). Nantinya dibagi menjadi 111 SKS mata kuliah (matkul) wajib dan 33 SKS matkul pilihan. Jika nantinya memilih Fisika Medis, perlu mengambil 30 SKS Matkul pilihan untuk mendalami bidang ilmu Fisika Medis.

foto Unpar kompas id

Peluang karier

Flaviana juga mengungkapkan bagaimana tantangan dan peluang kerja lulusan Fisika Medis. Hal tersebut berkaitan erat dengan stakeholder bidang kedokteran di Indonesia. Merujuk data yang ada, lanjut dia, saat ini ada lebih dari 2.800 rumah sakit dan 1.000 klinik. Dari jumlah tersebut, terdapat 2.000 pusat radiologi dan 120 di antaranya merupakan pusat radiologi intervensional. Kemudian dari 120 itu, sudah memiliki sebanyak 16 pusat kedokteran nuklir dan 4 pusat radioterapi.

Lebih lanjut, dengan fasilitas dan sumber daya yang ada itu, berdasarkan data Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Indonesia, membutuhkan minimal 1.500 fisikawan medis klinik. Dengan perhitungan distribusinya, Jawa dan Bali membutuhkan sekitar 1.100 fisikawan medis, Indonesia bagian barat dan timur masing-masing membutuhkan 200 fisikawan medis.

Kendati demikian, sampai dengan September 2019, tenaga fisikawan medis yang baru dimiliki Indonesia hanya 282. Dengan pembagiannya sebanyak 107 fisikawan medis di Radioterapi, 15 Kedokteran Nuklir, dan 160 Radiodiagnostik.

Kendati demikian, baik Flaviana maupun Reinard, tak menutup peluang karier seorang lulusan Fisika Medis terbatas sebagai fisikawan medis saja. Seiring berkembangnya teknologi kesehatan yang otomatis juga berpengaruh pada industri kesehatan, yaitu lulusan Fisika Medis dapat bekerja di industri alat kesehatan dan berpotensi bekerja di lembaga penelitian dan pengembangan.

Meski tergolong muda, program Fisika Medis Unpar telah memiliki pengalaman yang mumpuni dan potensi besar untuk berkontribusi sejalan dengan perkembangan zaman. Tentunya cabang baru dari jurusan fisika ini pun memiliki prospek kerja yang menjanjikan. Siapa bilang, belajar fisika hanya bisa jadi ilmuwan? Mari, bergabung bersama Fisika Medis Unpar dan ambil peran dalam menghadapi perkembangan teknologi kesehatan.

informasi selengkapnya bisa dilihat di laman pmb.unpar.ac.id atau melalui Layanan Informasi PMB Unpar dengan mengirimkan pesan pada e-mail admisi@unpar.ac.id, telepon (022) 2032655 atau info lebih lanjut di akun @unparofficial (Instagram) dan @unpar (Official Line) (Kantor Pemasaran & Admisi Unpar)

Universitas Katolik Parahyangan adalah salah satu universitas swasta pertama di Indonesia berdiri sejak 1955 berkomitmen untuk menjadi komunitas akademik yang humanum untuk dibaktikan kepada masyarakat. Website :  www.unpar.ac.id

 

[ad_2]

Source link

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *